Blog View Latest from the blog

Blog View

Tulisan Setyo Riyanto
Mar 13

XL Gandeng Pos Indonesia untuk Layanan Online Payment

Posted by: admin |
Tagged in: Untagged 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--XL Axiata  dan PT Pos Indonesia menjalin kerjasama dalam pemanfaatan layanan online kantor pos di seluruh Indonesia. Pada tahap awal, XL akan memanfaatkan layanan online untuk pembayaran komisi kepada para retailer dan canvasser XL yang tersebar di seluruh nusantara, termasuk daerah-daerah pelosok.

 

Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi dan Direktur Utama PT Pos Indonesia, I Ketut Mardjana, Rabu (9/3) di Jakarta. Hasnul Suhaimi dengan dukungan PT Pos, pihaknya akan lebih mudah mengirimkan komisi kepada mereka, yang banyak di antaranya berada di daerah pelosok dan bahkan tidak memiliki rekening bank.

 

Melalui kerjasama ini, para retailer dan canvasser akan bisa mengambil dana komisinya dari XL secara langsung. Mereka cukup dengan menunjukkan SMS yang membuktikan dia menerima kiriman uang ke outlet-outlet online Kantor Pos terdekat. Saat ini sudah terdapat sedikitnya 3900 outlet online di seluruh Indonesia.

 

Hasnul Suhaimi menambahkan, kerjasama dengan PT Pos Indonesia bisa dikembangkan lagi di masa yang akan datang untuk keperluan bisnis lainnya. Pengembangan tersebut antara lain mencakup pengiriman dokument, hadiah, kartu perdana, bahkan juga payment point untuk produk XL (XL Tunai) dan outlet BlackBerry (MDS).

 

Red: taufik rachman

 

sumber : http://www.republika.co.id/berita/trendtek/telekomunikasi/11/03/09/168247-xl-gandeng-pos-indonesia-untuk-layanan-online-payment

Feb 01

Peluncuran Prangko Istimewa Seri Tahun Kelinci 2562

Posted by: admin |
Tagged in: Untagged 


Prangko seri “Shio Kelinci” ini terdiri dari 3 (tiga) desain ; kelinci emas , kelinci berlari dan kelinci berkelompok. Desain prangko menampilkan obyek kelinci yang merupakan simbol empat dari dua belas simbol penanggalan China dan memiliki arti tersendiri bagi masyarakat keturunan Tionghoa. Prangko dicetak masing-masing dalam kopur Rp 1.500,- Rp 3.000,- dan Rp 4.000,-. Untuk pengamanan prangko akan memuat tanda khusus berupa logo PT Pos Indonesia (Persero)) yang hanya dapat dilihat dengan sinar ultra violet.

Penerbitan Prangko seri Shio merupakan salah satu cara untuk turut melestarikan kebudayaan bangsa. Shio adalah simbol binatang yang mewakili 12 siklus tahunan pada kalender China yang berdasarkan peredaran bulan. Dalam kalender China, awal tahun dimulai antara akhir Januari dan awal Februari. Sejak tahun 1911 China mengadopsi penaggalan barat yang berdasarkan peredaran matahari, tetapi penanggalan China  masih digunakan sehingga pada umumnya kalender dibuat dalam dua versi, penanggalan Gregorian berdasarkan matahari dan penanggalan China berdasarkan bulan.

Tahun baru China (Imlek) 2562 pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 3 Februari 2011, sebagai tahun kelinci dengan unsur emas. Kelinci dalam mitologi China adalah lambang umur panjang dan dikatakan sebagai turunan Bulan. Kelinci juga melambangkan keanggunan, sopan-santun, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan. Konon, orang yang lahir di bawah shio Kelinci akan menikmati kehidupan yang tenteram, damai, tenang dan amat menyenangkan. Wataknya pendiam, artistik dan memiliki penilaian positif.

Prangko seri “Shio Kelinci”  jenis penerbitan istimewa dirancang oleh de er dicetak sebanyak 300.000 set. Diterbitkan pula mini sheet yang dicetak sebanyak 30.000 set dengan harga @rp17.000,-, souvenir sheet dicetak sebanyak 30.000 set @rp5.000,-, sampul hari pertama (SHP) dicetak sebanyak 4.000 set @rp11.000,-, sampul hari pertama souvenir sheet dicetak sebanyak 4.000 set @rp7.000,-, kemasan filateli dicetak sebanyak 4.000 set @rp30.000,-. Seri ini juga menerbitkan edisi khusus berupa Souvenir Sheet yang dicetak sebanyak 5.000 set @rp100.000,-.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang dan informasi :
BAGIAN FILATELI
Jl Jakarta 34 BANDUNG 40272
Telp :  022-7230910
Fax  :  022-7230907
Email : filateli@posindonesia.co.id

 

Jan 31

Posindo Kembangkan Layanan Berbasis TI

Posted by: admin |
Tagged in: Untagged 

 

 

I-Pos merupakan layanan terbaru yang mampu mengakomodasi dan mengadopsi sistem apapun yang dipakai pelanggan korporat melalui interface yang secara special dapat digunakan sesuai permintaan pelanggan korporat, sehingga sinergi ini dapat meningkatkan kualitas layanan, produktivitas dan kecepatan jejak lacak kiriman.
Selain itu pos juga mengembangakan sentral layanan pelanggan korporat (SLPK) dengan manajemen yang didukung teknologi tepat guna dan fasilitas layanan modern, sehingga mendukung akurasi dan akselerasi produktivitas dan juga layanan mailing room yang mampu memberi layanan inter office dan intra office sesuai kebutuhan pelanggan.
"Kami bertekad untuk meyakinkan kepada para pelanggan, bahwa pos terus menerus menjaga, mengembangkan dan meningkatkan kualitas dan produktivitas layanan serta dapat menciptakan tingkat layanan yang mempu memberikan kemudahan bagi konsumennya." ungkap Setyo Riyanto di acara Customer Gathering Divisi Regional (Divre) IV bersama 80 pelanggan besar dan korporat di wilayah kerja Divre IV.
Setyo Riyanto dalam sambutannya mengatakan, Pos Indonesia ikut memiliki andil untuk menentukan wilayah kedaulatan Republik Indonesia.
"Dimana ada kantor pos, pasti itu masih wilayah kedaulatan Indonesia. Karena itu jangan anggap remeh keberadaan kantor pos, karena itu membuktikan kejelasan wilayah kedaulatan RI, kalau ada kantor pos itu dipastikan masih wilayah Indonesia," tutur Setyo Riyanto. (tribunnews)

Jan 31

Koneksi

Posted by: setyo |
Tagged in: teknologi

 

 

Kisah Ibu Penjual Boneka Kain Perca

Kata Koneksi kemudian mengalami evolusi dengan berkembangnya teknologi telematika. Koneksi digunakan sebagai istilah teknologi yang berarti terhubungnya satu pengirim dengan penerima pesan melalui suatu media tertentu.  Seiring dengan penerapannya dalam berbagai aktivitas kehidupan, istilah koneksi pun lazim digunakan dengan makna yang  bergerak positif.

Kini, ketika orang ingin meraih sukses dalam bisnis mutakhir, salah satu kuncinya ialah terkoneksi dengan lingkungan atau komunitas yang dituju. Perhatikan, seorang ibu rumah tangga yang rajin membuat boneka dari kain perca dalam tempo singkat melonjak jadi pengusaha sukses dengan omzet ratusan juta rupiah setiap bulannya. Mengapa? Sederhana saja, dari dulu dia memang telah mengerjakan pembuatan boneka kain perca yang kemudian ia masuk-masukan ke toko di sekitar tempat tinggalnya. Tak banyak perubahan bisnis kala itu. Tetapi sejak ia membeli ponsel dan membuka akun Facebook lalu meng”add” begitu banyak  orang atau komunitas  pelahan hidupnya mulai berubah. Yang dikerjakan adalah memotret satu demi satu karyanya, kemudian hasilnya di unggah  melalui akunnya dengan dibubuhi kalimat penawaran dan informasi harga plus tatacara pengirimannya.  Tak lama kemudian, pesanan pun berdatangan. Bukan hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.  Pelahan tapi pasti, ibu tadi menjadi pengusaha boneka kain perca yang sukses.

Apa yang dialami oleh ibu rumah tangga tadi hanya sebuah kasus kecil saja tentang riwayat bisnis yang  sukses berkat koneksi.  Ada banyak lagi kisah-kisah sejenis  yang kini dengan mudah kita temukan di sekitar kita. Persis seperti yang dikemukakan oleh Nicholas A. Christakis & James H. Flower dalam bukunya Connected (2010) yang bertutur bagaimana jejaring sosial mengarahkan dan membentuk hampir semua segi kehidupan kita. Bahwa hampir-hampir sukses kehidupan kita sangat ditentukan oleh bagaimana cara diri kita terkoneksi dengan jejaring sosial yang ada.

Agen Pos Mengkoneksi  Anda dengan Dunia

Sekarang  mari kita pikirkan tentang Pos. Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran dunia asal Indonesia, menjuluki Pos Indonesia The Network Company, perusahaan perposan yang keunggulannya terletak pada kepemilikan jejaring baik fisik maupun virtual yang luar biasa besar di Indonesia.  Ada lebih dari 3.700 kantor pos yang tersebar di seluruh Indonesia  yang kini terhubungkan oleh jaringan sistem transportasi maupun sistem informasi. Tak hanya itu, Pos Indonesia adalah anggota Perhimpunan Pos Sedunia (UPU) yang beranggotakan hampir seluruh negara yang ada di dunia.  Dengan posisi seperti ini, maka sesungguhnya Pos merupakan enabler bagi siapa pun yang ingin terkoneksi dengan komunitas mana pun di muka bumi ini.

Itu pula yang mendasari Pos Indonesia kini mengembangkan Agen Pos. Selain mendorong peran serta masyarakat dalam memperluas jejaring pelayanan pos, Agen Pos  merupakan entry point bagi siapa pun yang ingin terkoneksi dengan komunitas yang ada dalam lingkup bisnis Pos Indonesia.  Bagi pengguna jasa pos, koneksitas itu memungkinkan untuk mengirim surat, dokumen, uang, parcel, bahkan  barang-barang kemana pun. Ingat cerita ibu pembuat boneka kain perca? Ia mencantumkan tatacara pemesanan dengan memasukkan weselpos instan sebagai cara mengirim uang pembelian dan Pos Express untuk moda pengiriman barang pesanan dalam negeri dan EMS untuk pesanan luar negeri.

Sementara itu, bagi pengusaha yang membuka Agen Pos dirinya tak usah khawatir tak akan mendapat pasar. Sebab begitu ia menjadi Agen Pos sesungguhnya ia bergabung dengan lebih kurang 24.000 jejaring outlet pos yang telah intensif melayani masyarakat untuk aneka jenis layanan pos. Ia juga otomatis menjadi bagian dari komunitas perposan dunia. Dengan kata lain, membuka agen pos sama artinya dengan terkoneksi dengan lingkungan bisnis pos di seluruh dunia.  Bukankah itu makna baru yang lebih positif dari kata koneksi?(***)

Jan 31

Ko-opetisi

Posted by: setyo |
Tagged in: teknologi , pos indonesia

 

Lewat kecaman itu, sebenarnya Andy Groove ingin mengatakan bahwa prosesor buatannya sangat ekselen dan menantang agar microsoft menciptakan software yang sama ekselennya, agar bisnis mereka terus bertahan.  Memang, kemudian Microsoft terpacu untuk memutakhirkan Windows dengan versi-versi yang lebih canggih, yang hanya dioperasikan dengan menggunakan mikroprosesor Pentium 4.  Pada giliran berikutnya, Intel meluncurkan Pentium Dual Core untuk mengimbangi Windows Vista yang lebih canggih lagi.  Inilah praktik paling nyata dari strategi komplementasi. Siapa yang diuntungkan? Keduanya.  Bisnis perangkat keras maju jika bisnis perangkat lunak pesat, begitu pula bisnis perangkat lunak pesat bila  perangkat keras pesat.

Praktik komplementasi seperti ini cukup banyak bertebaran dalam dunia bisnis.  Industri asuransi maju pesat karena berkomplementasi dengan perusahaan mobil.  Demikian pula dengan kotak bermain PS2 terus berkembang karena EA Electronic terus memproduksi game-game yang makin memikat.  Piranti Handphone juga makin melejit saja tingkat penjualannya karena facebook dan yahoo messenger semakin canggih dan mudah diakses di perangkat seluler ini.

Adam M Brandenburger & Barry J. Nalebuff dalam bukunya Coopetition (1997) bertutur bahwa komplemen dapat menjadi faktor pembeda antara kesuksesan dan kegagalan bisnis. Lebih lanjut dikemukakan bahwa dalam pendekatan ko-opetisi, bisnis tak hanya fokus kepada pelanggan tetapi juga pemasok produk atau jasa komplementer. Karena seringkali, keberhasilan bisnis kita juga sangat dipengaruhi oleh mutu dan ekselensi para pemasok. 

Pendekatan ko-opetisi mengajari kita agar melihat para pelaku bisnis dari dua sisi yang bersamaan, mitra dalam menciptakan pasar sekaligus pesaing dalam meraih pasar. Ini pula yang menyebabkan kenapa toko elektronik yang berjejer di suatu kawasan pertokoan akan lebih laku dibandingkan bila berdiri sendiri di suatu tempat. Karena sesungguhnya, toko-toko elektronik ini saling berkomplementer untuk menciptakan pasar sekaligus bersaing memperebutkan pasar yang sudah tercipta itu.  Itu pula yang menyebabkan, mengapa ketika komputer dan teknologi  telematika hadir ternyata tidak menghapuskan teknologi kertas. Alih-alih munculnya “kantor bebas kertas” yang terjadi adalah komputer memudahkan kerja kertas.

Apa maknanya buat Pos Indonesia? Bisnis Pos kini dipahami tidaklah berdiri sendiri. Tak ada lagi cerita monopoli. Tapi Pos harus mengikuti permainan bisnis yang terbuka. Pos juga tak lagi memandang permainan bisnis dengan zero sum game, menang kalah. Pos  melihat perkembangan teknologi telematika bukan lagi sebagai musuh yang bakal mematikan surat atau layanan pos lainnya, tapi menjadi komplemen yang akhirnya membuat kiriman wesel pos bisa secepat Anda merebus mie instan, teknologi itu pula yang membuat kantor pos kini sangat ramai dikunjungi orang yang melakukan aneka transaksi keuangan. Pos  juga memandang bahwa ada banyak pihak yang dapat menjadi komplementor yang baik buat bisnis pos, maka kami menggandeng Bank Mandiri, Pura Barutama, FIF, PT Kereta Api, Garuda Indonesia, atau perusahaan swasta lainnya. Layanan ekselen mereka memacu Pos Indonesia untuk menyajikan pelayanan perposan yang jauh lebih baik lagi. ***

Jan 31

Peta

Posted by: setyo |
Tagged in: teknologi

 

Kota Bandung tumbuh dengan pesat. Jika puluhan tahun silam tidak ada jalan tol, kini jalan tol Cipularang sambung menyambung dengan tol Purbaleunyi menjadi bagian dari infrastruktur kota yang menjadi kantor pusat PT Pos Indonesia, tempat saya mengabdi. Kemacetan yang terjadi dan jalur yang bertele-tele dari arah  jalan Pasteur menuju Gedung Sate, kini dipangkas dengan dibangunnya Jalan layang Pasupati. Aneka Mall, komplek perumahan, hingga fasilitas publik dibangun dimana-mana. Demikian juga nama jalan, mengalami perubahan. Jalan Dago diubah menjadi jalan ir. H. Djuanda, jalan Papandayan berganti nama menjadi Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jalan kebon Kelapa menjadi Jalan Abdul Muis, Kiaracondong  menjadi Jalan Jenderal Ibrahim Adji, serta masih banyak lagi. Terminal Bus Antarkota yang semula di Kebon Kelapa sudah dipindah ke Leuwipanjang. Tentu saja, nama-nama tersebut tak akan ditemukan pada peta lama yang saya miliki, baik yang tertanam dalam ingatan saya maupun yang tersimpan di lemari kerja.

Lucunya, meski sudah terjadi perubahan landskap kota, saya dan boleh jadi kebanyakan orang Bandung, masih menggunakan peta lama dalam perbincangan sehari-hari. Misalnya ketika memberi petunjuk rute jalan kepada seseorang, kita masih menyebut nama jalan Dago dan Kiaracondong. Demikian pula ketika kita melintas dari tol Pasteur masih lebih suka mengikuti  jalan berkelok dan macet dari Cipaganti-Siliwangi, terus ke Ir. H.Djuanda untuk mencapai Gedung Sate. Ya, kita cenderung tetap menggunakan peta lama dalam ingatan kita untuk memandu aktivitas sehari-hari. Bahkan tak sedikit dari kita yang menolak menggunakan nama-nama jalan baru,  sebaliknya kembali menggunakan nama-nama jalan yang lama.

Sampai pada suatu ketika Saudara saya datang dari Jawa Timur. Ia baru pertama kali datang ke kota Bandung. Tiba pada pagi hari menggunakan bus antarkota di terminal Leuwi Panjang untuk suatu keperluan penting  pagihari itu pula. Dia menelpon saya untuk meminta dipandu rute jalan. Saya menyebut nama-nama jalan yang harus dilaluinya untuk mencapai tempat tinggal saya di Antapani.  Beberapa jam lamanya ia baru tiba ke rumah saya. Ia mengeluh, beberapa nama jalan yang saya sebut tidak ia temukan, beberapa lokasi juga sudah tidak dikenali. Sejumlah rute jalan macet mengular, rute angkutan kota juga banyak  berubah.

Peristiwa itu menyadarkan saya, bahwa peta yang ada dalam ingatan saya harus segera dimutakhirkan. Saya juga harus beradaptasi dengan peta yang terus dimutakhirkan itu. Saya  harus membiasakan diri untuk menyebut nama jalan Ibrahim Adji untuk jalan yang menghubungkan jalan Jakarta dengan Soekarno Hatta, atau membiasakan diri untuk melintasi jembatan Pasupati agar lebih cepat sampai ke kantor pusat Pos Indonesia di sisi Gedung Sate. Demikian pula landmark-landmark baru harus saya hapal untuk memudahkan saya memenuhi berbagai  kebutuhan secara lebih efektif dan efesien.

Apa maknanya cerita tentang saya dan peta kota Bandung ini dalam konteks transformasi Pos Indonesia?  Cara kita bertindak dan merespons bisnis sangat ditentukan oleh paradigma bisnis yang ada dalam benak kita. Nah, dalam benak setiap insan pos terdapat peta paradigma bisnis pos yang tertanam sejak dulu ketika ia masuk menjadi bagian dari perusahaan.

Sementara itu, Lingkungan bisnis seperti juga lingkungan kota Bandung yang mengalami perkembangan dan perubahan terus menerus. Kini ada UU nomor 38 Tahun 2009 yang jelas sangat mengubah betul paradigma  bisnis pos.  Liberalisasi, interkoneksi, dan pengelolaan perusahaan yang berbasis Good Corporate Governance menjadi pola dasar yang baru dalam bisnis pos di Indonesia.  Suatu hal yang menuntut kita secepatnya memperbaharui peta paradigma bisnis yang ada dalam benak masing-masing.  Bila tidak,   kita akan tersesat dan terlambat meraih peluang-peluang bisnis pos yang justru semakin marak bertumbuhan di negeri ini. Bukan hanya itu, pesaing bisnis akan dapat dengan mudah mengambil lebih banyak lagi pangsa pasar yang sudah kita kuasai selama ini. Memutakhirkan peta bisnis pos dalam benak kita adalah sebuah keharusan agar tetap sukses dalam bisnis pos masa kini maupun masa mendatang.(***)

Jan 31

Moment of Truth

Posted by: setyo |
Tagged in: pos indonesia , pak pos , loket , Antrian

 

Suatu pagi di kantor pos yang sibuk, seorang lelaki paruh baya ikut mengantri di loket. Pakaiannya rapi, kemeja lengan panjang, celana necis, lengkap dengan dasi warna merah terang. Sementara di tangannya tergenggam  sebuah bungkusan cukup besar. Hari itu, kantor pos memang sedang  ramai, tak heran bila pada sejumlah loket pelayanan terdapat antrian panjang.  Lelaki  paruh baya itu mengantri kira-kira pada urutan  15 pada loket  suratpos.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya lelaki paruh baya itu sampai di muka loket. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu,” Dengan senyum manisnya petugas loket menyapa. Sang lelaki paruh baya itu pun berkata bahwa dirinya hendak mengirimkan barang seraya menyerahkan barang yang ada di tangannya.

Setelah memperhatikan barang tersebut dan menimbang-nimbang petugas pun berucap; ” Maaf Pak,  Bapak salah mengantri. Mestinya Bapak mengantri di loket paket yang ada di sebelah.”
“Lha....bukannya sama saja loket yang di sini dengan yang di sana?” sang lelaki paruh baya itu setengah meyakinkan diri.

Petugas loket menggelengkan kepala. Sang lelaki paruh baya pun keluar dari antrian untuk pindah ke antrian loket sebelah, tentu saja di urutan paling belakang.  Setelah lewat empat puluh menit, akhirnya ia pun sampai ke depan loket. Lagi-lagi dengan suara ramah petugas loket menyapanya. “Wah Pak.... untuk bisa dikirim, barang ini harus dibungkus dengan pembungkus yang kuat. Jadi harus di bungkus ulang,” demikian dengan lancar petugas loket memberi kan penjelasan. “Lalu harus bagaimana saya?” tanya sang lelaki paruh baya
“Silakan ke  meja pelayanan di ujung pak,  ada petugas yang akan membantu membungkus kiriman Bapak.” Petugas mempersilakan lelaki paruh baya itu untuk keluar dari antrian.

Tentu saja, lelaki paruh baya itu mengikuti anjuran petugas. Setelah dikemas dengan pembungkus yang kuat dan label alamatnya dipindah, ia kembali mengantri.

Antrian itu telah mengular panjang. Ia kini mendapat nomor giliran ke-30.  Butuh waktu satu jam untuk  lelaki paruh baya itu akhirnya sampai kembali ke depan petugas loket.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu,” Dengan senyum manisnya petugas loket menyapa. Sang lelaki paruh baya itu pun berkata bahwa dirinya hendak mengirimkan barang seraya menyerahkan bungkusan yang ada di tangannya. Petugas pun  menimbang  dan mencatat kiriman tersebut sambil memeriksa alamat pengiriman. “Lho Pak...ini alamatnya nggak lengkap. Jalan Masjid itu banyak Pak, jadi harus dilengkapi kode pos.”
“Oh begitu ya....jadinya bagaimana?” Lelaki itu merasa masygul.
“Ya..bapak ke meja customer service dulu...di sana ada buku kode pos, jangan lupa tulis dengan lengkap ya Pak,” petugas loket pun memberikan saran terbaiknya.

Sambil menggelengkan kepala lelaki paruh baya itu keluar dari antrian menuju  meja Customer service.  Butuh waktu lima belas menit untuk mencari dan menuliskan kode pos yang dimaksud. Setelah itu lelaki paruh baya itu pun kembali ke jalur antrian yang panjang. Sekali lagi ia  mengantri dari belakang.

Akhirnya lelaki paruh baya itu pun sampai kembali ke depan petugas loket. Kali ini segalanya berjalan lancar. Bungkusan ditimbang, diperiksa kelengkapan alamatnya, dan ongkos kirim pun dibayar tunai oleh lelaki paruh baya. Sambil menunggu petugas loket menghitung uang kembalian, lelaki paruh baya itu pun berucap: ”Mas...sebenarnya saya baru pertama memanfaatkan layanan disini. Saya adalah orang yang pertama kali datang ke sini pagi hari tadi. Setelah mengalami semua pelayanan disini, percayalah....ini adalah kedatangan saya yang terakhir.”***

Oct 24

AgenPos Kini Jadi Peluang Usaha Prospektif Masyarakat Indonesia.

Posted by: admin |
Tagged in: Untagged 

 



“AgenPos ini merupakan upaya untuk lebih mendekati masyarakat. Sementara masyarakat sendiri menilai ini adalah peluang usaha yang menguntungkan. Usaha sebagai AgenPos memang paling cocok bagi Koperasi , Usaha Kecil dan Menengah,” jelas Manager Public Relations Pos Indonesia, R.Joesman Kartaprawira.

Perkembangan  usaha yang menguntungkan tersebut membuat operator perposan terkemuka  ini melakukan terobosan baru dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat di seluruh pelosok tanah air untuk turut bersama-sama dengan Pos Indonesia mengembangkan bisnis yang sangat prospektif ini sebagai AgenPos.

Sebenarnya, AgenPos bukan jenis usaha yang baru. Jauh sebelum muncul UU No.38/2009 Tentang Pos, bisnis yang berbasis kemitraan antara Pos Indonesia dengan dunia usaha ini sudah berjalan. Hanya saja, ketika itu AgenPos sifatnya sangat terbatas  Cuma mampu melayani pembelian materei dan prangko serta pengiriman surat semata dengan fee hanya sebesar 6%. Kini sebagai AgenPos maka pelaku bisnis ini akan memperoleh fee sampai sebesar 20%.

Sekarang, AgenPos bisa melakukan berbagai pelayanan perposan tak ubahnya seperti kantor pos. Menawarkan jasa pengiriman surat posdan dokumen. Seperti Surat Kilat Khusus (SKK), pos ekspress dan Express Mail  Service (untuk kiriman ke luar negeri) maupun surat standar .

Juga melayani jasa pengiriman barang melalui PaketPos untuk kiriman domistik maupun luar negeri. AgenPos juga melayani penjualan benda-benda pos seperti penjualan prangko, materei, pembayaran aneka transaksi seperti pembayaran  rekening  listrik, telepon, kartu kredit  dan pembayaran cicilan kendaraan bermotor. Hingga pengiriman dan pembayaran weselpos  instan.

AgenPos dengan metode marketing lebih terarah langsung ke masyarakat, baik di perumahan maupun pemukiman, menerapkan pemasaran lebih profesional sesuai dengan tuntutan pasar. Usaha prospektif ini terasa lebih lengkap dan gampang melayani masyarakat. “Oleh sebab itu bisnis sebagai AgenPos lebih menarik untuk siapa pun yang berminat mengembangkan usaha di bidang keagenan pos ini,” tutur Direktur Pemasaran dan Pengembangan Bisnis Pos Indonesia, Setyo Riyanto.

Menurut dia, AgenPos merupakan bisnis yang menguntungkan. Setidaknya ada beberapa alasan.  AgenPos telah diakui keberadaannya secara luas oleh masyarakat maupun pemerintah dan dikelola oleh PT.Pos Indonesia sejak  puluhan tahun lalu.

Selain itu dalam industry jasa kurir Pos memiliki puluhan ribu titik layanan  yang tersebar luas di seluruh pelosok Nusantara. Pada sisi lain, AgenPos dapat dikelola oleh siapapun anggota masyarakat. Tanpa harus memiliki modal besar dan keahlian khusus.Sebagai AgenPos, sharing fee yang diberikan sungguh sangat menarik sampai 20% dan bersifat progresif.

Diungkapkan  Setyo Riyanto, perseroan mentargetkan tahun 2010-2011 akan dibuka 2000 AgenPos di seluruh pelosok tanah air.  Hal ini mengingat persyaratannya yang mudah dan modal awal yang disediakan tidak begitu besar. Sasaran utama pembukaan AgenPos ini adalah koperasi dan usaha kecil menengah. “Namun demikian tidak tertutup kemungkinan bagi perorangan maupun korporasi yang berminat bisa pula membuka usaha sebagai AgenPos,” katanya.

Mudah dan Menguntungkan.


Syarat untuk menjadi AgenPos cukup mudah. Peminat dapat menghubungi kantor-kantor pos terdekat guna memperoleh informasi lengkap dan mengisi formulir yang disediakan. Berbagai kelengkapan tentunya sudah harus disiapkan oleh peminat. Untuk pemohon berbadan usaha, diminta melengkapi dokumen seperti surat keterangan domisili usaha, SIUP, NPWP, Akta Pendirian, Tanda Daftar Perusahaan, Denah Lokasi, Identitas diri pimpinan berupa KTP atau SIM, keterangan status lokasi dan ijin lingkungan dari RT, RW, Kelurahan.

Sedangkan untuk perorangan cukup melampirkan identitas diri, NPWP, keterangan status lokasi dengan denah dan ijin lingkungan. Selanjutnya pihak Pos Indonesia akan melakukan survey kelayakan untuk kemudian jika dinyatakan layak, Pos Indonesia akan menerbitkan persetujuan tertulis kepada pemohon.

Tahap berikutnya adalah pengikatan kontrak yang dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama Pengelolaan AgenPos. Setelah itu barulah dilakukan persiapan fisik dan berbagai bentuk persiapan lainnya.

Bagi yang sudah mendapatkan persetujuan tertulis, maka Pos Indonesia akan memberikan dukungan penuh. Bentuk dukungan tersebut antara lain pelatihan petugas, instalasi software, aplikasi AgenPos, dukungan promosi pemasaran, panduan dan bimbingan manajemen dan pembinaan usaha. Nah, menunggu apalagi. Segeralah menghubungi  kantor-kantor pos terdekat  untuk memperoleh informasi dan langkah kongkrit selanjutnya sebagai AgenPos profesional.