Blog View Latest from the blog

Blog View

A short description about your blog
Jan 31

Koneksi

Posted by: setyo |
Tagged in: teknologi

 

 

Kisah Ibu Penjual Boneka Kain Perca

Kata Koneksi kemudian mengalami evolusi dengan berkembangnya teknologi telematika. Koneksi digunakan sebagai istilah teknologi yang berarti terhubungnya satu pengirim dengan penerima pesan melalui suatu media tertentu.  Seiring dengan penerapannya dalam berbagai aktivitas kehidupan, istilah koneksi pun lazim digunakan dengan makna yang  bergerak positif.

Kini, ketika orang ingin meraih sukses dalam bisnis mutakhir, salah satu kuncinya ialah terkoneksi dengan lingkungan atau komunitas yang dituju. Perhatikan, seorang ibu rumah tangga yang rajin membuat boneka dari kain perca dalam tempo singkat melonjak jadi pengusaha sukses dengan omzet ratusan juta rupiah setiap bulannya. Mengapa? Sederhana saja, dari dulu dia memang telah mengerjakan pembuatan boneka kain perca yang kemudian ia masuk-masukan ke toko di sekitar tempat tinggalnya. Tak banyak perubahan bisnis kala itu. Tetapi sejak ia membeli ponsel dan membuka akun Facebook lalu meng”add” begitu banyak  orang atau komunitas  pelahan hidupnya mulai berubah. Yang dikerjakan adalah memotret satu demi satu karyanya, kemudian hasilnya di unggah  melalui akunnya dengan dibubuhi kalimat penawaran dan informasi harga plus tatacara pengirimannya.  Tak lama kemudian, pesanan pun berdatangan. Bukan hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.  Pelahan tapi pasti, ibu tadi menjadi pengusaha boneka kain perca yang sukses.

Apa yang dialami oleh ibu rumah tangga tadi hanya sebuah kasus kecil saja tentang riwayat bisnis yang  sukses berkat koneksi.  Ada banyak lagi kisah-kisah sejenis  yang kini dengan mudah kita temukan di sekitar kita. Persis seperti yang dikemukakan oleh Nicholas A. Christakis & James H. Flower dalam bukunya Connected (2010) yang bertutur bagaimana jejaring sosial mengarahkan dan membentuk hampir semua segi kehidupan kita. Bahwa hampir-hampir sukses kehidupan kita sangat ditentukan oleh bagaimana cara diri kita terkoneksi dengan jejaring sosial yang ada.

Agen Pos Mengkoneksi  Anda dengan Dunia

Sekarang  mari kita pikirkan tentang Pos. Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran dunia asal Indonesia, menjuluki Pos Indonesia The Network Company, perusahaan perposan yang keunggulannya terletak pada kepemilikan jejaring baik fisik maupun virtual yang luar biasa besar di Indonesia.  Ada lebih dari 3.700 kantor pos yang tersebar di seluruh Indonesia  yang kini terhubungkan oleh jaringan sistem transportasi maupun sistem informasi. Tak hanya itu, Pos Indonesia adalah anggota Perhimpunan Pos Sedunia (UPU) yang beranggotakan hampir seluruh negara yang ada di dunia.  Dengan posisi seperti ini, maka sesungguhnya Pos merupakan enabler bagi siapa pun yang ingin terkoneksi dengan komunitas mana pun di muka bumi ini.

Itu pula yang mendasari Pos Indonesia kini mengembangkan Agen Pos. Selain mendorong peran serta masyarakat dalam memperluas jejaring pelayanan pos, Agen Pos  merupakan entry point bagi siapa pun yang ingin terkoneksi dengan komunitas yang ada dalam lingkup bisnis Pos Indonesia.  Bagi pengguna jasa pos, koneksitas itu memungkinkan untuk mengirim surat, dokumen, uang, parcel, bahkan  barang-barang kemana pun. Ingat cerita ibu pembuat boneka kain perca? Ia mencantumkan tatacara pemesanan dengan memasukkan weselpos instan sebagai cara mengirim uang pembelian dan Pos Express untuk moda pengiriman barang pesanan dalam negeri dan EMS untuk pesanan luar negeri.

Sementara itu, bagi pengusaha yang membuka Agen Pos dirinya tak usah khawatir tak akan mendapat pasar. Sebab begitu ia menjadi Agen Pos sesungguhnya ia bergabung dengan lebih kurang 24.000 jejaring outlet pos yang telah intensif melayani masyarakat untuk aneka jenis layanan pos. Ia juga otomatis menjadi bagian dari komunitas perposan dunia. Dengan kata lain, membuka agen pos sama artinya dengan terkoneksi dengan lingkungan bisnis pos di seluruh dunia.  Bukankah itu makna baru yang lebih positif dari kata koneksi?(***)

Jan 31

Ko-opetisi

Posted by: setyo |
Tagged in: teknologi , pos indonesia

 

Lewat kecaman itu, sebenarnya Andy Groove ingin mengatakan bahwa prosesor buatannya sangat ekselen dan menantang agar microsoft menciptakan software yang sama ekselennya, agar bisnis mereka terus bertahan.  Memang, kemudian Microsoft terpacu untuk memutakhirkan Windows dengan versi-versi yang lebih canggih, yang hanya dioperasikan dengan menggunakan mikroprosesor Pentium 4.  Pada giliran berikutnya, Intel meluncurkan Pentium Dual Core untuk mengimbangi Windows Vista yang lebih canggih lagi.  Inilah praktik paling nyata dari strategi komplementasi. Siapa yang diuntungkan? Keduanya.  Bisnis perangkat keras maju jika bisnis perangkat lunak pesat, begitu pula bisnis perangkat lunak pesat bila  perangkat keras pesat.

Praktik komplementasi seperti ini cukup banyak bertebaran dalam dunia bisnis.  Industri asuransi maju pesat karena berkomplementasi dengan perusahaan mobil.  Demikian pula dengan kotak bermain PS2 terus berkembang karena EA Electronic terus memproduksi game-game yang makin memikat.  Piranti Handphone juga makin melejit saja tingkat penjualannya karena facebook dan yahoo messenger semakin canggih dan mudah diakses di perangkat seluler ini.

Adam M Brandenburger & Barry J. Nalebuff dalam bukunya Coopetition (1997) bertutur bahwa komplemen dapat menjadi faktor pembeda antara kesuksesan dan kegagalan bisnis. Lebih lanjut dikemukakan bahwa dalam pendekatan ko-opetisi, bisnis tak hanya fokus kepada pelanggan tetapi juga pemasok produk atau jasa komplementer. Karena seringkali, keberhasilan bisnis kita juga sangat dipengaruhi oleh mutu dan ekselensi para pemasok. 

Pendekatan ko-opetisi mengajari kita agar melihat para pelaku bisnis dari dua sisi yang bersamaan, mitra dalam menciptakan pasar sekaligus pesaing dalam meraih pasar. Ini pula yang menyebabkan kenapa toko elektronik yang berjejer di suatu kawasan pertokoan akan lebih laku dibandingkan bila berdiri sendiri di suatu tempat. Karena sesungguhnya, toko-toko elektronik ini saling berkomplementer untuk menciptakan pasar sekaligus bersaing memperebutkan pasar yang sudah tercipta itu.  Itu pula yang menyebabkan, mengapa ketika komputer dan teknologi  telematika hadir ternyata tidak menghapuskan teknologi kertas. Alih-alih munculnya “kantor bebas kertas” yang terjadi adalah komputer memudahkan kerja kertas.

Apa maknanya buat Pos Indonesia? Bisnis Pos kini dipahami tidaklah berdiri sendiri. Tak ada lagi cerita monopoli. Tapi Pos harus mengikuti permainan bisnis yang terbuka. Pos juga tak lagi memandang permainan bisnis dengan zero sum game, menang kalah. Pos  melihat perkembangan teknologi telematika bukan lagi sebagai musuh yang bakal mematikan surat atau layanan pos lainnya, tapi menjadi komplemen yang akhirnya membuat kiriman wesel pos bisa secepat Anda merebus mie instan, teknologi itu pula yang membuat kantor pos kini sangat ramai dikunjungi orang yang melakukan aneka transaksi keuangan. Pos  juga memandang bahwa ada banyak pihak yang dapat menjadi komplementor yang baik buat bisnis pos, maka kami menggandeng Bank Mandiri, Pura Barutama, FIF, PT Kereta Api, Garuda Indonesia, atau perusahaan swasta lainnya. Layanan ekselen mereka memacu Pos Indonesia untuk menyajikan pelayanan perposan yang jauh lebih baik lagi. ***

Jan 31

Peta

Posted by: setyo |
Tagged in: teknologi

 

Kota Bandung tumbuh dengan pesat. Jika puluhan tahun silam tidak ada jalan tol, kini jalan tol Cipularang sambung menyambung dengan tol Purbaleunyi menjadi bagian dari infrastruktur kota yang menjadi kantor pusat PT Pos Indonesia, tempat saya mengabdi. Kemacetan yang terjadi dan jalur yang bertele-tele dari arah  jalan Pasteur menuju Gedung Sate, kini dipangkas dengan dibangunnya Jalan layang Pasupati. Aneka Mall, komplek perumahan, hingga fasilitas publik dibangun dimana-mana. Demikian juga nama jalan, mengalami perubahan. Jalan Dago diubah menjadi jalan ir. H. Djuanda, jalan Papandayan berganti nama menjadi Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jalan kebon Kelapa menjadi Jalan Abdul Muis, Kiaracondong  menjadi Jalan Jenderal Ibrahim Adji, serta masih banyak lagi. Terminal Bus Antarkota yang semula di Kebon Kelapa sudah dipindah ke Leuwipanjang. Tentu saja, nama-nama tersebut tak akan ditemukan pada peta lama yang saya miliki, baik yang tertanam dalam ingatan saya maupun yang tersimpan di lemari kerja.

Lucunya, meski sudah terjadi perubahan landskap kota, saya dan boleh jadi kebanyakan orang Bandung, masih menggunakan peta lama dalam perbincangan sehari-hari. Misalnya ketika memberi petunjuk rute jalan kepada seseorang, kita masih menyebut nama jalan Dago dan Kiaracondong. Demikian pula ketika kita melintas dari tol Pasteur masih lebih suka mengikuti  jalan berkelok dan macet dari Cipaganti-Siliwangi, terus ke Ir. H.Djuanda untuk mencapai Gedung Sate. Ya, kita cenderung tetap menggunakan peta lama dalam ingatan kita untuk memandu aktivitas sehari-hari. Bahkan tak sedikit dari kita yang menolak menggunakan nama-nama jalan baru,  sebaliknya kembali menggunakan nama-nama jalan yang lama.

Sampai pada suatu ketika Saudara saya datang dari Jawa Timur. Ia baru pertama kali datang ke kota Bandung. Tiba pada pagi hari menggunakan bus antarkota di terminal Leuwi Panjang untuk suatu keperluan penting  pagihari itu pula. Dia menelpon saya untuk meminta dipandu rute jalan. Saya menyebut nama-nama jalan yang harus dilaluinya untuk mencapai tempat tinggal saya di Antapani.  Beberapa jam lamanya ia baru tiba ke rumah saya. Ia mengeluh, beberapa nama jalan yang saya sebut tidak ia temukan, beberapa lokasi juga sudah tidak dikenali. Sejumlah rute jalan macet mengular, rute angkutan kota juga banyak  berubah.

Peristiwa itu menyadarkan saya, bahwa peta yang ada dalam ingatan saya harus segera dimutakhirkan. Saya juga harus beradaptasi dengan peta yang terus dimutakhirkan itu. Saya  harus membiasakan diri untuk menyebut nama jalan Ibrahim Adji untuk jalan yang menghubungkan jalan Jakarta dengan Soekarno Hatta, atau membiasakan diri untuk melintasi jembatan Pasupati agar lebih cepat sampai ke kantor pusat Pos Indonesia di sisi Gedung Sate. Demikian pula landmark-landmark baru harus saya hapal untuk memudahkan saya memenuhi berbagai  kebutuhan secara lebih efektif dan efesien.

Apa maknanya cerita tentang saya dan peta kota Bandung ini dalam konteks transformasi Pos Indonesia?  Cara kita bertindak dan merespons bisnis sangat ditentukan oleh paradigma bisnis yang ada dalam benak kita. Nah, dalam benak setiap insan pos terdapat peta paradigma bisnis pos yang tertanam sejak dulu ketika ia masuk menjadi bagian dari perusahaan.

Sementara itu, Lingkungan bisnis seperti juga lingkungan kota Bandung yang mengalami perkembangan dan perubahan terus menerus. Kini ada UU nomor 38 Tahun 2009 yang jelas sangat mengubah betul paradigma  bisnis pos.  Liberalisasi, interkoneksi, dan pengelolaan perusahaan yang berbasis Good Corporate Governance menjadi pola dasar yang baru dalam bisnis pos di Indonesia.  Suatu hal yang menuntut kita secepatnya memperbaharui peta paradigma bisnis yang ada dalam benak masing-masing.  Bila tidak,   kita akan tersesat dan terlambat meraih peluang-peluang bisnis pos yang justru semakin marak bertumbuhan di negeri ini. Bukan hanya itu, pesaing bisnis akan dapat dengan mudah mengambil lebih banyak lagi pangsa pasar yang sudah kita kuasai selama ini. Memutakhirkan peta bisnis pos dalam benak kita adalah sebuah keharusan agar tetap sukses dalam bisnis pos masa kini maupun masa mendatang.(***)

Jan 31

Moment of Truth

Posted by: setyo |
Tagged in: pos indonesia , pak pos , loket , Antrian

 

Suatu pagi di kantor pos yang sibuk, seorang lelaki paruh baya ikut mengantri di loket. Pakaiannya rapi, kemeja lengan panjang, celana necis, lengkap dengan dasi warna merah terang. Sementara di tangannya tergenggam  sebuah bungkusan cukup besar. Hari itu, kantor pos memang sedang  ramai, tak heran bila pada sejumlah loket pelayanan terdapat antrian panjang.  Lelaki  paruh baya itu mengantri kira-kira pada urutan  15 pada loket  suratpos.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya lelaki paruh baya itu sampai di muka loket. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu,” Dengan senyum manisnya petugas loket menyapa. Sang lelaki paruh baya itu pun berkata bahwa dirinya hendak mengirimkan barang seraya menyerahkan barang yang ada di tangannya.

Setelah memperhatikan barang tersebut dan menimbang-nimbang petugas pun berucap; ” Maaf Pak,  Bapak salah mengantri. Mestinya Bapak mengantri di loket paket yang ada di sebelah.”
“Lha....bukannya sama saja loket yang di sini dengan yang di sana?” sang lelaki paruh baya itu setengah meyakinkan diri.

Petugas loket menggelengkan kepala. Sang lelaki paruh baya pun keluar dari antrian untuk pindah ke antrian loket sebelah, tentu saja di urutan paling belakang.  Setelah lewat empat puluh menit, akhirnya ia pun sampai ke depan loket. Lagi-lagi dengan suara ramah petugas loket menyapanya. “Wah Pak.... untuk bisa dikirim, barang ini harus dibungkus dengan pembungkus yang kuat. Jadi harus di bungkus ulang,” demikian dengan lancar petugas loket memberi kan penjelasan. “Lalu harus bagaimana saya?” tanya sang lelaki paruh baya
“Silakan ke  meja pelayanan di ujung pak,  ada petugas yang akan membantu membungkus kiriman Bapak.” Petugas mempersilakan lelaki paruh baya itu untuk keluar dari antrian.

Tentu saja, lelaki paruh baya itu mengikuti anjuran petugas. Setelah dikemas dengan pembungkus yang kuat dan label alamatnya dipindah, ia kembali mengantri.

Antrian itu telah mengular panjang. Ia kini mendapat nomor giliran ke-30.  Butuh waktu satu jam untuk  lelaki paruh baya itu akhirnya sampai kembali ke depan petugas loket.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu,” Dengan senyum manisnya petugas loket menyapa. Sang lelaki paruh baya itu pun berkata bahwa dirinya hendak mengirimkan barang seraya menyerahkan bungkusan yang ada di tangannya. Petugas pun  menimbang  dan mencatat kiriman tersebut sambil memeriksa alamat pengiriman. “Lho Pak...ini alamatnya nggak lengkap. Jalan Masjid itu banyak Pak, jadi harus dilengkapi kode pos.”
“Oh begitu ya....jadinya bagaimana?” Lelaki itu merasa masygul.
“Ya..bapak ke meja customer service dulu...di sana ada buku kode pos, jangan lupa tulis dengan lengkap ya Pak,” petugas loket pun memberikan saran terbaiknya.

Sambil menggelengkan kepala lelaki paruh baya itu keluar dari antrian menuju  meja Customer service.  Butuh waktu lima belas menit untuk mencari dan menuliskan kode pos yang dimaksud. Setelah itu lelaki paruh baya itu pun kembali ke jalur antrian yang panjang. Sekali lagi ia  mengantri dari belakang.

Akhirnya lelaki paruh baya itu pun sampai kembali ke depan petugas loket. Kali ini segalanya berjalan lancar. Bungkusan ditimbang, diperiksa kelengkapan alamatnya, dan ongkos kirim pun dibayar tunai oleh lelaki paruh baya. Sambil menunggu petugas loket menghitung uang kembalian, lelaki paruh baya itu pun berucap: ”Mas...sebenarnya saya baru pertama memanfaatkan layanan disini. Saya adalah orang yang pertama kali datang ke sini pagi hari tadi. Setelah mengalami semua pelayanan disini, percayalah....ini adalah kedatangan saya yang terakhir.”***

xxxhub